Sabtu, 03 Oktober 2009

Setiap orang pasti punya tempat yang dirasanya paling menenangkan di saat suasana hatinya tidak baik.
Begitu juga saya.
Tadi, pulang sekolah, saya berniat ke persewaan komik di dekat sekolah, One Piece (saya jadi pelanggan disana sejak awal masuk SMA lho!). Dan di tengah perjalanan (saya jalan kaki), saya liat si Musim lewat, naik motor. Sedikitpun dia tidak menyapa saya. Apa-apaan dia? Saya tau mungkin dia nggak sudi lagi untuk sekadar menyapa saya, tapi saya kan...
Ya, benar, saya masih mengharapkannya.
Saat itu, airmata saya nyaris tumpah. Akhirnya saya berlari dan sampai di One Piece. Begitu di sana, perasaan tenang melanda saya. Di sana ada Bangun, Indah, dua teman saya, dan ada Mas Bayu, penjaga OP. Lalu seperti tidak terjadi apa-apa, kami bercanda seperti biasanya.
Saya tahu, mereka bisa mengembalikan tawa saya. Dan karena itu saya betah berlama-lama di sana.
Sebenarnya, mungkin bukan cuman mereka yang bisa menyebabkan saya tertawa saat itu, tapi juga karena saya senang melihat deretan komik yang akan saya pinjam.
Ya, saya gila komik. Saya maniak manga. Alasannya tentu saja bukan sekedar hobi atau apa, tapi karena manga adalah hal yang bisa mengalihkan pikiran saya yang kadang butek dan nggak karuan ini. Saya mencintai komik, dan saya benar-benar menyukainya.
Jadi ketika saya sampai di kost lagi, saya menghela nafas panjang.
Kenapa bisa-bisanya saya masih mengingat dan mengharapkan Musim? Jawabannya gampang karena saya memang tak pernah bisa melupakannya.
Tapi saya sadar, sepenuhnya, bahwa dia memang Musim, tapi dia bukan milik saya lagi. Saya selalu bilang pada teman-teman saya bahwa saya tak mengharapkannya lagi, tapi nyatanya, itu semua hanya bualan saya. Agar saya terlihat tangguh...
Tidak, sebenarnya saya pecundang. Benar-benar pecundang. Saya tak pernah mengakui kelemahan saya terhadap Musim. Dan saya benci hal itu.
Ketika untuk selanjutnya saya bisa tenang dan berpikir jernih, saya sudah terlalu lelah.
Saya mati-matian berjuang untuk melupakan Musim. Saya selalu berusaha untuk mengenyahkannya dari benak saya, tapi selalu gagal.
Jadi sekarang, saya menyerah. Saya memang tak bisa melupakannya.
Lebih baik sekarang saya diam. Saya kan memang sudah berjanji untuk tak lagi mengganggunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar